Sabtu, 02 November 2013

TULISAN 7


BANK DUNIA : TRANSPORTASI TERINTEGRASI UNTUK URBANISASI BERKELANJUTAN

Jakarta (Antara) - Bank Dunia menyatakan transportasi terintegrasi dan efektif dalam penggunaannya bakal memandu urbanisasi di negara-negara berkembang ke arah yang lebih berkelanjutan baik secara sosial maupun ekonomi. 
Publikasi Bank Dunia bertajuk "Transforming Cities with Transit" yang diterima di Jakarta, Sabtu, menyebutkan negara-negara berkembang kerap menemui pertumbuhan arus masuk populasi ke perkotaan yang melesat tinggi yang disertai dengan sejumlah dampak negatif. 
Contoh dari sejumlah dampak negatif itu antara lain ketergantungan kepada kendaraan pribadi yang mengakibatkan meningkatnya kemacetan, polusi udara, emisi gas rumah kaca, penggunaan energi dan waktu yang tidak efisien, serta aksesibilitas sosial yang tidak seimbang. 
Padahal, menurut Bank Dunia, penggunaan moda transportasi darat yang terintegrasi bila digunakan secara efektif dapat mengatasi sejumlah permasalahan tersebut. 
Untuk itu, publikasi lembaga keuangan multilateral itu menganalisis antara lain penggunaan sistem Bus Rapid Transit (BRT) dan dampaknya kepada pengembangan lahan di daerah perkotaan. 
Bank Dunia menyarankan penciptaan tata kota berkelanjutan dari strategi tingkat makro yang mempengaruhi pemerintahan kota hingga inisiatif tingkat mikro, seperti pembangunan yang berorientasi kepada transportasi yang mengubah pola pembangunan transportasi secara radikal dengan daerah tetangga atau sekitarnya. 
Sebagaimana diberitakan, pemerintah direncanakan segera membentuk badan interim untuk mengurusi transportasi kawasan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi sebagai upaya mempersiapkan diri menuju lembaga Otoritas Transportasi Jabodetabek. 
"Kami ingin segera menangani hal urgen untuk mengatasi masalah transportasi sehingga diusulkan badan interim," kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono dalam diskusi "Perlukah Desk Transportasi untuk Mengurai Kemacetan", Kamis (31/10). 
Menurut Bambang, badan interim transportasi Jabodetabek atau apapun namanya dinilai penting guna mengintegrasikan serta mengharmonisasikan beragam moda transportasi angkutan umum. 
Selain itu, ujar dia, otoritas transportasi yang memadukan kawasan Jabodetabek juga esensial untuk mensinkronkan kebijakan transportasi seperti bila pembuatan monorel yang direncanakan lintas provinsi tidak hanya di Jakarta, tetapi juga melintasi daerah lainnya seperti di Bekasi (Jawa Barat). 
Kemenhub juga menginginkan moda transportasi massal "bus rapid transit" dapat diimplementasikan di seluruh ibu kota provinsi di Indonesia pada akhir 2014. 
"Kementerian Perhubungan mengharapkan pada akhir 2014, semua ibu kota provinsi di Indonesia sudah menerapkan pelayanan BRT untuk angkutan perkotaan di wilayah mereka," kata Direktur Bina Sistem Transportasi Perkotaan Kemenhub Djoko Sasono. 
Diperkirakan baru terdapat sekitar 10 ibu kota provinsi yang tersebar di berbagai pulau di Tanah Air yang telah menerapkan BRT sehingga diharapkan dapat lebih banyak lagi ibu kota provinsi yang juga menggunakannya. 
Namun di beberapa ibu kota, Djoko mengakui bahwa sejumlah BRT belum terselenggara secara penuh antara lain karena terdapat keterbatasan infrastruktur seperti belum memiliki jalur sendiri seperti halnya Transjakarta di wilayah DKI Jakarta.(tp)

Analisis           :

Menurt saya publikasi dari Bank Dunia yang menyatakan “Transforming Cities with Transit” itu sangat baik untuk kemajuan transprotasi dinegara- negara berkembang seperti di Indonesia. Apabila transportasi yang akan berlangsung di Indonesia dijalankan dengan baik nantinya maka akan baik juga kehidupan masyarakat Indonesia dengan transportasi – transportasi umum yang memadai serta dapat memberikan kenyamanan.


Sumber : http://id.berita.yahoo.com/bank-dunia-transportasi-terintegrasi-untuk-urbanisasi-berkelanjutan-060645397--finance.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar