Distribusi Pendapatan
Para ekonom pada umumnya membedakan dua ukuran pokok distribusi pendapatan,
yang keduanya digunakan untuk tujuan analisis dan kuantitatif tentang keadilan
distribusi pendapatan. Kedua ukuran tersebut adalah distribusi ukuran,
yakni besar atau kecilnya bagian pendapatan yang diterima masing-masing orang;
dan distribusi “fungsional” atau distribusi kepemilikan faktor-faktor
produksi. Dari kedua jenis distribusi pendapatan ini kemudian dihitung
indikator untuk menunjukkan distribusi pendapatan masyarakat.
·
Distribusi Pendapatan Ukuran
Distribusi pendapatan perorangan (personal distribution of income)
atau distribusi ukuran pendapatan (size distribution of income)
merupakan ukuran yang paling sering digunakan oleh para ekonom. Ukuran ini
secara langsung menghitung jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap individu
atau rumah tangga tanpa memperdulikan sumbernya.
Ada tiga alat ukur tingkat ketimpangan pendapatan dengan bantuan
distribusi ukuran, yakni:
1. Rasio Kuznets
2. Kurva Lorenz
3. Koefisien Gini
·
Rasio Kuznets
Ukuran umum yang memperlihatkan tingkat ketimpangan pendapatan dapat
ditemukan dalam kolom 3, yaitu perbandingan antara pendapatan yang diterima
oleh 20 persen anggota kelompok teratas dan 40 persen anggota kelompok
terbawah.Rasio yang sering disebut sebagai rasio Kuznets inilah (dinamai
berdasarkan nama pemenang Nobel Simon Kuznets), yang sering dipakai sebagai
ukuran tingkat ketimpangan antara dua kelompok ekstrem, yaitu kelompok yang sangat
miskin dan kelompok yang sangat kaya di satu negara. Rasio ketimpangan dalam
contoh ini adalah 14 dibagi dengan 51, atau sekitar 0, 28.
·
Kurva Lorenz
Kurva Lorenz menunjukkan hubungan kuantitatif aktual antara
persentase penerima pendapatan dengan persentase pendapatan total yang
benar-benar mereka terima selama, misalnya, satu tahun.
·
Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan Agregat
Rasio konsentrasi Gini (Gini concentration ratio) atau sederhananya disebut koefisien Gini
(Gini coefficient), mengambil nama dari ahli statistik Italia yang
merumuskannya pertama kali pada tahun 1912. Koefisien Gini adalah ukuran
ketimpangan agregat yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna)
hingga satu (ketimpangan sempurna). Koefisien Gini untuk negara-negara yang
derajat ketimpangannya tinggi berkisar antara 0,50 hingga 0,70, sedangkan untuk
negara-negara yang distribusi pendapatannya relatif merata, angkanya berkisar
antara 0,20 hingga 0,35.
Distribusi Fungsional
Distribusi pendapatan fungsional atau pangsa distribusi pendapatan per
faktor produksi (functional or factor share distribution of income) berfokus
pada bagian dari pendapatan nasional total yang diterima oleh masing-masing
faktor produksi (tanah, tenaga kerja, dan modal).
Teori distribusi pendapatan fungsional ini
pada dasarnya mempersoalkan persentase pendapatan tenaga kerja secara
keseluruhan, bukan sebagai unit-unit usaha atau faktor produksi yang terpisah
secara individual, dan membandingkannya dengan persentase pendapatan total yang
dibagikan dalam bentuk sewa, bunga, dan laba (masing-masing merupakan perolehan
dari tanah, modal uang, dan modal fisik).
Walaupun individu-individu tertentu
mungkin saja menerima seluruh hasil dari segenap sumber daya tersebut, tetapi
hal itu bukanlah merupakan perhatian dari analisis pendekatan fungsional ini.
Kurva permintaan dan penawaran diasumsikan
sebagai sesuatu yang menentukan harga per satuan (unit) dari masing-masing
faktor produksi. Apabila harga-harga unit faktor produksi tersebut
dikalikan dengan kuantitas faktor produksi yang digunakan bersumber dari asumsi
utilitas (pendayagunaan) faktor produksi secara efisien (sehingga biayanya
berada pada taraf minimum), maka kita bisa menghitung total pembayaran atau
pendapatan yang diterima oleh setiap faktor produksi tersebut.
Sebagai contoh, penawaran dan permintaan
terhadap tenaga kerja diasumsikan akan menentukan tingkat upah. Lalu, bila upah
ini dikalikan dengan seluruh tenaga kerja yang tersedia di pasar, maka akan
didapat jumlah keseluruhan pembayaran upah, yang terkadang
disebut dengan istilah tersendiri, yakni total pengeluaran upah (total wage bill).
Perkembangan Indeks Ketimpangan
Kalau kita bergerak dari periode 1970an ke
periode 2000an, maka dapat kita katakan bahwa tidak terjadi perubahan yang
berarti mengenai ketimpangan distribusi pendapatan di Indonesia, masih tetap
secara umum berada pada ketimpangan yang sedang baik ditunjukkan oleh koefisien
Kuznets maupun koefisien Gini. Pada awal periode (2002-2004) bagian
pendapatan yang diterima oleh 40 persen termiskin relatif tetap sekitar 20
persen dan bagian yang diterima oleh 20 persen terkaya juga tetap (sekitar 42
persen), sehingga koefisien Kuznets juga relatif konstan (bedanya 0,01 karena
pembulatan), dan koefisien Gini juga menunjukkan hal yang sama dari 0,33 (pada
tahun 2002)menjadi 0,32 pada dua tahun setelah itu.
Dari tahun 2004 ke 2005 distribusi
pendapatan menjadi sedikit lebih buruk, bagian yang diterima oleh 40 persen
termiskin menurun dan bagian yang diterima oleh 20 persen terkaya meningkat
sehingga koefisien Kuznets mengalami penurunan. Hal ini juga ditunjukkan
oleh koefisien Gini yang menunjukkan distribusi pendapatan menjadi lebih
timpang. Memburuknya distribusi pendapatan dari tahun 2006 ke 2007
(ditunjukkan oleh menurunnya koefisien Kuznets dan menaiknya koefisien Gini)
mungkin dapat dijelaskan karena adanya kenaikan harga-harga sebagai akibat
naiknya harga bensin ketika itu. Kenaikan harga-harga rupanya lebih
menguntungkan kelompok kaya dibandingkan dengan kelompok miskin, sebagaimana diperjuangkan
oleh para demonstran yang menentang kenaikan harga premium waktu itu.
Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan
dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar,
ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan
masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan
komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif,
dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman
utamanya mencakup:
·
Gambaran
kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan
pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi
kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
· Gambaran
tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,
ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal
ini termasuk pendidikan dan informasi.
Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup
masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
· Gambaran
tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang
memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi
bagian-bagian politik dan ekonomi di
seluruh dunia.
Mengukur Kemiskinan
Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori ,
yaitu Kemiskinan absolut dan Kemiskinan relatif.
Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten , tidak
terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran
absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup
menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk
laki laki dewasa).
Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai
hidup dg pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengahuntuk
pendapatan dibawah $2 per hari, dg batasan ini maka diperkiraan pada 2001 1,1
miliar orang didunia mengonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang
didunia mengonsumsi kurang dari $2/hari."Proporsi penduduk negara
berkembang yang hidup dalam Kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990
menjadi 21% pada 2001. Melihat pada periode 1981-2001, persentase dari penduduk
dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari telah berkurang
separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun waktu
tersebut.
Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di
dunia bekembang, ada bukti tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di
negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang
berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota danghetto yang miskin.
Kemiskinan dapat dilihat sebagai kondisi kolektif masyarakat miskin, atau
kelompok orang-orang miskin, dan dalam pengertian ini keseluruhan negara kadang-kadang
dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini, negara-negara ini biasanya
disebut sebagai negara berkembang.
== Diskusi tentang kemiskinan ==ad
§
Dalam sebuah
lingkungan belajar. Terutama murid yang lebih kecil yang berasal dari keluarga
miskin, kebutuhan dasar mereka seperti yang dijelaskan oleh Abraham
Maslow dalam hirarki
kebutuhan Maslow; kebutuhan i beralih ke kemiskinan pada umumnya) yaitu efek Matthew.
Perdebatan yang berhubungan dalam keadaan capital manusia dan capital individual seseorang
cenderung untuk memfokuskan kepada akses capital instructional dan capital social yang
tersedia hanya bagi mereka yang terdidik dalam sistem formal.
Penyebab Kemiskinan
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
·
penyebab
individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari
perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin.
·
penyebab
keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga
· penyebab
sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan
kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar.
·
penyebab
agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk
perang, pemerintah, dan ekonomi.
·
penyebab
struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari
struktur sosial.
Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan
pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika
Serikat(negara terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan
masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu,
orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal
melewati atas garis kemiskinan.
Menghilangkan Kemiskinan
Tanggapan utama terhadap kemiskinan adalah:
·
Bantuan
kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah
menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan.
·
Bantuan
terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk
mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, termasuk hukuman,
pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
·
Persiapan
bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada orang
miskin, banyak negara sejahtera menyediakan
bantuan untuk orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin,
seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat
orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar